Kenapa masyarakat lebih memilih bank konvensional daripada bank syariah

Selama tiga dekade terakhir, kita telah mengalami beberapa periode krisis keuangan global dengan skala yang semakin meningkat untuk setiap periode. Perbankan dimintai pertanggungjawaban dalam salah satu satu periode krisis ini. Instrumen keuangan yang kompleks tetapi kurang transparan dikaitkan dengan kegagalan bank selama krisis keuangan mortgage pada tahun 2008. Solusi yang ditawarkan oleh sebagian besar bank sentral tampaknya tidak memberikan solusi apa pun, malah membawa sistem ke krisis yang lain. jalan. Solusi ini mencakup bailout, Dodd-Frank act, program quantitative easing, yang sebagian besar membuat pasar semakin rapuh.

Mari kita ambil contoh bailout yang digunakan oleh sebagian besar bank sentral di seluruh dunia. Solusi ini membawa kita pada hasil yang tidak diinginkan di mana bank-bank yang too big too fail menjadi semakin besar, memfasilitasi bertambahnya utang, dan menciptakan sistem keuangan yang semakin tidak stabil1. Penerima manfaat dari dana talangan tersebut sebagian besar adalah individu yang sangat kaya, maka kebijakan tersebut berkontribusi pada peningkatan tingkat kesenjangan di seluruh dunia.

Kegagalan bank sentral untuk memulihkan krisis keuangan 2008 lalu telah mengungkapkan bahaya dari kegiatan perbankan yang tidak etis dan melanggar hukum. Oleh karena itu, sangat penting bagi sistem keuangan untuk mencari solusi dari kerapuhan tersebut. Solusi yang membatasi perilaku berhutang yang berlebihan, mendukung keadilan dan khususnya keadilan sosial. Di sinilah keuangan Islam muncul.

Keuangan Islam beroperasi sesuai dengan hukum Islam atau Syariah, sehingga mendukung tujuan Islam atau dalam nomenklatur bahasa Arab yang didefinisikan sebagai Maqashid Syariah. Tujuan-tujuan tersebut bersifat universal, dan secara tradisional terdiri dari perlindungan lima kebutuhan dasar manusia, meliputi perlindungan agama (diin), perlindungan diri (nafs), perlindungan keluarga (nasl), perlindungan harta benda (maal), dan perlindungan intelektual (‘aql). Dalam bahasa yang lebih kontemporer dan universal, tujuan tersebut diwakili oleh Sustainability Development Goals (SDG) yang diprakarsai oleh PBB.

Pada artikel ini, kita akan memfokuskan pembahasan kita pada industri terbesar dalam sistem keuangan syariah, yaitu perbankan syariah. Pada 2019, menurut ICD (Islamic Corporation of the Development of the Private Sector), ia mewakili sekitar 69% dari keseluruhan sistem keuangan Islam, dengan total aset di seluruh dunia sebesar USD$ 1,993 Triliun. Posisi ini diikuti oleh pasar sukuk yang mewakili sekitar 19% pada tahun yang sama. Lembaga Keuangan Syariah (LKS) lain mencakup reksa dana syariah dan takaful2. Karena industri perbankan ini di sebagian besar wilayah bersaing dengan industri konvensional, maka penting untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi pelanggan terhadap perbankan syariah. Kami akan mengawali pembahasan ini dengan membedakan industri perbankan syariah dengan industri konvensional. Juga dengan menganalisis bukti empiris baru, kami akan menunjukkan apakah pengaruh religius bank syariah dapat mempengaruhi preferensi konsumen dalam mengadopsi produk mereka.

1. Perbankan Syariah Vs. Konvensional

Fitur perbankan syariah yang paling khas adalah kepatuhan mereka terhadap hukum Islam atau Syariah. Oleh karena itu, operasi mereka harus memenuhi perintah Syariah dengan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) baik di tingkat perusahaan maupun di tingkat nasional. Konsep hukum Islam yang paling mendasar dalam hal transaksi keuangan adalah larangan Riba, Gharar, Maysir, Zalim, dan substansi Haram.

Larangan riba dalam konteks kegiatan perbankan diantaranya memastikan di awal adanya tambahan dari pinjaman sebagai hadiah untuk waktu menunggu. Tidak ada bedanya apakah tambahan itu besar atau kecil, tetap atau berubah-ubah, dalam bentuk jumlah mutlak yang harus dibayar di muka, atau pada saat jatuh tempo, atau sebagai hadiah atau jasa yang akan diterima sebagai syarat pinjaman3. Larangan tersebut berawal dari konsep uang bukan sebagai komoditas, sehingga tidak dapat menghasilkan keuntungan apapun.

Konsep berikut lebih sulit untuk dipahami. Gharar secara harfiah didefinisikan sebagai tanpa sadar mengekspos diri sendiri atau properti sendiri ke dalam bahaya. Literatur fikih memiliki definisi yang beragam, namun secara teknis Iqbal et al. (2006)3 mendefinisikan Gharar terkait dengan konteks kita sebagai tindakan dan kondisi dalam kontrak pertukaran, dengan implikasi penuh yang tidak diketahui dengan jelas oleh para pihak. Kondisi tersebut melanggar prinsip persetujuan sukarela dari semua pihak, yang merupakan salah satu syarat sahnya akad pertukaran dalam Islam. Tujuan dari larangan tersebut adalah untuk meminimalkan kesalahpahaman dan konflik antara pihak-pihak yang mengadakan kontrak.

Larangan selanjutnya adalah larangan pengambilan risiko secara spekulatif seperti dalam perjudian atau dalam istilah Arab disebut Maysir. Secara teknis, larangan maysir adalah larangan menginginkan sesuatu yang berharga dengan mudah dan tanpa membayar kompensasi yang setara, atau tanpa bekerja untuk itu, atau tanpa mengambil kewajiban apapun terhadapnya, dengan cara permainan atau murni kesempatan4. Dan dua larangan terakhir adalah larangan Zhulm (zalim) dan substansi Haram. Zalim mengacu pada larangan bertransaksi yang dapat merugikan orang lain. Dan substansi haram adalah larangan terkait dengan zat tertentu yang dilarang oleh hukum Islam seperti alkohol, senjata, pornografi, dll. Larangan ini akan menjadi dasar kami untuk menguraikan perbedaan operasional antara dua lembaga keuangan yang bersaing ini.

Sebagai perantara keuangan, pada dasarnya bank syariah menyediakan layanan perbankan tradisional yang menyalurkan dana dari unit surplus ke unit defisit. Dalam model bisnis perbankan konvensional, baik produk dari sisi aset maupun kewajiban bank menggunakan bunga untuk penetapan harga. Bertentangan dengan larangan Riba, ia memandang uang sebagai komoditas, sehingga uang dapat diperjualbelikan.

Islam tidak menerima konsep uang seperti itu, melainkan uang hanya sebagai alat tukar dan satuan hitung. Oleh karena itu, ia tidak menetapkan harga uang, dan pendapatan untuk perbankan syariah utamanya diatur melalui bagi untung dan rugi. Misalnya, sebuah proyek bisnis yang akan dibiayai oleh bank syariah, harus membagi keuntungan atau kerugiannya dengan bank sesuai dengan kesepakatan awal mereka. Dengan menggunakan mekanisme tersebut, bank syariah menunjukkan kesediaannya untuk menerima sebagian dari risiko sebagai akibat dari ketidakpastian di pasar. Pada saat pasar cenderung menguntungkan, kedua belah pihak akan berbagi keuntungan dan sebaliknya.

Diskusi ini telah membawa kita pada perbedaan ketiga antara dua sistem perbankan yang saling bertentangan ini. Keinginan perbankan syariah yang disebutkan sebelumnya menunjukkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam transaksi berbagi risiko. Sebaliknya, bunga yang dibebankan oleh perbankan konvensional sebenarnya adalah harga dari pokok pinjaman yang dihitung berdasarkan risiko yang mereka yakini melekat pada pasar pada saat transaksi. Dengan kata lain, perbankan konvensional mencoba untuk menjamin pengembalian mereka dan secara implisit mencegah diri mereka untuk menanggung risiko apapun di pasar. Untuk itu, mereka dengan sengaja akan mengalihkan segala risiko kepada pihak lain dengan membebankan bunga. Selain itu, jaminan tersebut diperluas ke biaya jika terjadi gagal bayar, sedangkan perbankan syariah tidak mengenakan penalti kecuali untuk biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan pembayaran.

Perbedaan kelima didefinisikan sebagai hubungan transaksi keuangan dengan aset. Bank konvensional tidak menyediakan hubungan tersebut, dimana transaksinya murni transaksi finansial. Sedangkan perbankan syariah melakukan transaksi keuangan baik berbasis aset maupun beragun aset. Keterkaitan tersebut mengungkapkan pentingnya perbankan syariah dari perspektif ekonomi, karena transaksi mereka mengandung kegiatan ekonomi riil baik dengan memproduksi atau menumbuhkan aset. Dan juga, dalam upaya mencapai Maqashid al-Syariah, perbankan syariah mendukung bisnis yang berorientasi etika dan moral. Berbeda dengan konvensional yang tidak memiliki kendala serupa dalam membangun hubungan dengan bisnis yang Haram.

Perbedaan terakhir dapat diringkas dari rangkaian perbedaan tersebut di atas. Mulai dari pembahasan bunga dan denda sebagai instrumen perbankan konvensional untuk mendapat tambahan pengembalian yang dijamin, hingga pengalihan risiko dan transaksi keuangan murni; mengarah pada tujuan yaitu memaksimalkan keuntungan dan kesejahteraan ekonomi bank. Di sisi lain, bank syariah yang berbagi untung atau rugi dan menanggung risiko bisnis, menghilangkan penalti kecuali biaya untuk pemulihan pembayaran, dan transaksi berbasis aset atau beragun aset; menunjukkan tujuan yang lebih berorientasi komunitas yang berdasarkan etika, sosial dan moral. Maka, ringkasan perbedaan antara perbankan syariah dan perbankan konvensional tercantum pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Perbedaan Aspek Bank Syariah dan Konvensional Bank Konvensional Bank Syariah

Aspek Bank Konvensional Bank Syariah
Penentuan harga Bunga Tidak ada harga
Pendapatan Pendapatan tetap Bagi untung dan rugi
Pengambilan risiko Pemindahan risiko Pembagian risiko
Gagal Bayar Dihukum oleh bunga Biaya pembayaran
Hubungan aset Murni transaksi Berdasarkan atau beragun aset
Klien Tidak ada batasan Usaha halal
Tujuan Maksimalisasi keuntungan dan kesejahteraan ekonomi Orientasi komunitas

2. Preferensi Nasabah Terhadap Bank Syariah

Secara teoritis, perbankan syariah tampaknya menjadi pilihan yang lebih baik bagi nasabah Muslim mengingat fitur-fiturnya seperti yang dijelaskan di atas. Apakah aspek agama adalah fitur yang paling menarik dari perbankan syariah bagi Muslim? Tanggapan yang paling tepat adalah menunjukkan perilaku ketika pelanggan Muslim menemukan antara fitur berbasis agama dan fitur berbasis non-agama dari perbankan syariah, di mana sebagian besar studi empiris mereka menampilkan hasil yang bervariasi.

Perbedaan hasil tersebut mungkin terkait dengan perbedaan wilayah studi. Studi yang dilakukan di negara mayoritas Muslim menunjukkan bahwa fitur berbasis agama menjadi salah satu fitur utama yang menarik pelanggan Muslim. Banyak studi empiris di Indonesia5, Bangladesh6, Malaysia7, 8, Tunisia9, dan Uni Emirat Arab10 mendukung klaim ini. Salah satu indikator yang paling banyak digunakan untuk fitur berbasis agama adalah kepatuhan produk perbankan syariah terhadap syariat Islam. Meskipun penting untuk dicatat bahwa fitur-fitur berbasis agama tidak selalu menjadi fitur yang terpenting, karena mereka dapat dimasukkan ke dalam fitur-fitur non-agama.

Misalnya, pelanggan di Bangladesh mengkhususkan tiga fitur non-agama penting untuk memilih bank syariah di mana fitur berbasis agama tertanam di dalamnya: kompetensi, komitmen dan citra perusahaan11. Nasabah lebih memilih bankir yang kompeten yang memiliki keterampilan untuk menjawab pertanyaan tentang berbagai layanan terkait rekening syariah. Juga, mereka akan merasa aman jika bankir mereka dapat berkomitmen untuk menangani konflik, mampu memenuhi janji dan menjaga konsistensi mereka dari waktu ke waktu. Selain itu, mereka pasti akan melihat citra korporat bank serta kemudahan yang ditawarkan.

Sementara studi yang dilakukan di negara minoritas Muslim seperti Inggris12 dan Uganda13, menunjukkan bahwa fitur non-agama adalah fitur penentu untuk menarik pelanggan. Kriteria utama pelanggan Inggris dalam memilih bank syariah adalah biaya layanan yang rendah, dan mereka menempatkan kepatuhan pada hukum Islam sebagai yang kedua. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh sebuah penelitian di Malaysia dengan perspektif multi-etnis, di mana etnis China dan India lebih memilih fitur-fitur berbasis non-agama seperti layanan dan kenyamanan bank.

Fenomena ini dapat dibenarkan melalui niat perilaku berdasarkan Theory of Reasoned Action (TRA), yang diprediksi khususnya oleh dua komponen: sikap terhadap perilaku dan norma subjektif. Yang pertama adalah respons yang dipelajari terhadap suatu objek atau tindakan, sedangkan yang terakhir adalah persepsi individu tentang tekanan sosial untuk melakukan perilaku tertentu. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin menarik minat non-muslim terhadap perbankan syariah.

Sebagai contoh, sebuah penelitian di Pekanbaru, Indonesia awalnya telah menunjukkan bahwa baik pengusaha kecil dan mikro Muslim dan non-Muslim memiliki pemahaman yang kurang tentang proses pembiayaan syariah. Sehingga, mereka memiliki minat yang rendah untuk mengadopsi produk perbankan syariah. Perilaku tersebut berhasil diubah setelah sesi konseling yang meningkatkan literasi mereka tentang jenis pembiayaan syariah, manfaatnya, dan perbedaannya dengan konvensional. Menariknya, niat untuk menggunakan pembiayaan syariah lebih tinggi pada pengusaha non-Muslim dibandingkan dengan pengusaha Muslim.

Setelah pelanggan mengadopsi layanan perbankan syariah, pertanyaan selanjutnya mungkin adalah faktor yang mempengaruhi niat pelanggan untuk terus menggunakan layanan mereka. Beberapa studi mengusulkan fitur berbasis non-agama seperti reliabilitas bank, kepuasan pelanggan, kepercayaan dan pelayanan pelanggan sebagai fitur yang penting14, 15. Demikian juga, sebuah studi baru-baru ini juga mendukung klaim tersebut dan menunjukkan kualitas berbasis non-agama dari bank syariah seperti kualitas hasil, lingkungan fisik dan interaksi sebagai faktor yang berpengaruh16. Dan hanya satu penelitian yang membuktikan bahwa motif dan sikap religius, di samping kemudahan akses pembiayaan, berpengaruh signifikan terhadap niat berkelanjutan untuk menggunakan layanan perbankan syariah.

3. Kesimpulan

Fitur berbasis agama atau keyakinan adalah fitur yang paling khas dari perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional. Secara teoritis, fitur-fitur perbankan syariah berbasis agama tampaknya lebih baik daripada perbankan konvensional dari perspektif pelanggan. Perbankan syariah tidak menjadikan uang komoditas, menghilangkan bunga, berbagi risiko, tidak ada penalti yang berlebihan, semua transaksi berbasis aset/beragun aset, dan yang terpenting, berorientasi pada masyarakat berdasarkan etika, sosial dan moral.

Apakah fitur berbasis agama ini yang paling menarik untuk pelanggan, kita bisa merujuk jawabannya ke sebagian besar studi empiris yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Fitur berbasis agama termasuk dalam daftar fitur yang menarik, tetapi belum tentu merupakan yang terpenting. Fitur-fitur ini, bersama dengan fitur non-agama dibutuhkan untuk menarik pelanggan serta untuk mempertahankan loyalitas mereka. Selain itu, fitur yang berbasis agama diharapkan dapat dilekatkan pada fitur non-agama, sehingga signifikansi keagamaan dapat dilihat secara utuh dan tidak secara terpisah.

Referensi

[1] Tariq Alrifai. Islamic finance and the new financial system: An ethical approach to preventing future financial crises. John Wiley & Sons, 2015.

[2] Islamic Corporation of the Development of the Private Sector. Islamic finance development report 2020, July 2020.

[3] Munawar Iqbal, Philip Molyneux, and S Conermann. Thirty years of islamic banking. History, performance and prospects. Bankhistorisches Archiv, 32(2):155–158, 2006.

[4] Muhammad Ayub. Understanding islamic finance, john wiley & sons ltd, 2007.

[5] Aam Slamet Rusydiana and Fatin Fadhilah Hasib. Islamic banking selection criteria: Case in indonesia using analytic network process. Economica: Jurnal Ekonomi Islam, 10(1):165–188, 2019.

[6] Y Chowdhury, Nishat Saba, and M Habib. Factors affecting the choice of islamic banking by the customers: A case study. Frontiers in Management Research, 3(1):1–5, 2019.

[7] Farah Amalina Md Nawi, Ahmad Shukri Yazid, and Mustafa Omar Mohammed. A critical literature review for islamic banks selection criteria in malaysia. International Business Research, 6(6):143, 2013.

[8] Abdelghani Echchabi and Oladokun Nafiu Olaniyi. Malaysian consumers’ preferences for islamic banking at tributes. International journal of social economics, 2012.

[9] Moez Ltifi, Lubica Hikkerova, Boualem Aliouat, and Jameleddine Gharbi. The determinants of the choice of islamic banks in tunisia. International Journal of Bank Marketing, 2016.

[10] Abdulkader Kaakeh, M Kabir Hassan, and Stefan F Van Hemmen Almazor. Factors affecting customers’ attitude towards islamic banking in uae. International Journal of Emerging Markets, 2019.

[11] Mehree Iqbal, Nabila Nisha, and Mamunur Rashid. Bank selection criteria and satisfaction of retail customers of islamic banks in bangladesh. International Journal of Bank Marketing, 2018.

[12] Walid Mansour, Mohamed Ben Abdelhamid, Omar Masood, and GSK Niazi. Islamic banking and customers’ preferences: the case of the uk. Qualitative Research in Financial Markets, 2010.

[13] Juma Bananuka, David Katamba, Irene Nalukenge, Frank Kabuye, and Kasimu Sendawula. Adoption of islamic banking in a non-islamic country: evidence from uganda. Journal of Islamic Accounting and Business Research, 2020.

[14] ZME Kishada and Norailis Ab Wahab. Factors affecting customer loyalty in islamic banking: evidence from malaysian banks. International journal of business and social science, 4(7):264–273, 2013.

[15] Rashid Saeed, Amber Iqbal, Rab Nawaz Lodhi, Amna Sami, Ayesha Riaz, M Munir, and Mizna. Impact of service quality on customer loyalty in islamic banking sector of pakistan: A mediating role of customer satisfaction. Journal of Basic and Applied Scientific Research, 4(2):135–143, 2014.

[16] Hung-Che Wu, Ching-Chan Cheng, and Ananda Sabil Hussein. What drives experiential loyalty towards the banks? the case of islamic banks in indonesia. International Journal of Bank Marketing, 2019.

Leave a Comment