Essay bagaimana menumbuhkan nilai KEPAHLAWANAN di kalangan generasi muda

Loading Preview

Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above.

Sebagaimana biasanya, setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari besar nasional, yaitu Hari Pahlawan. Momentum ini tentunya bukan hanya sekadar hadiah atau seremonial semata, melainkan untuk mengenang jasa pahlawan yang telah gigih berani, rela mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang pada waktu itu usianya masih relatif sangat muda.

Peringatan Hari Pahlawan Ke-75 Tahun 2020 yang jatuh pada tanggal 10 November, Kementerian Sosial Republik Indonesia telah meluncurkan tema “PAHLAWANKU SEPANJANG MASA”.

Tema ini sengaja dipilih dengan pertimbangan. Kalau dulu “pahlawan” identik dengan perjuangan yang melawan penjajah mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan. Di era masa kini, makna “pahlawan” bisa dipahami dari berbagai pengertian. Mereka adalah sosok panutan yang dapat membawa perubahan serta memberikan kontribusi positif dalam berbagai perspektif. Bisa dari perspektif ekonomi, sosial budaya, seni, politik bahkan pariwisata dengan lingkup lokal hingga internasional. Di era digital ini, telah banyak bermunculan sosok dengan ide, karya, dan kontribusi yang sangat dibutuhkan dan bermanfaat. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga masyarakat sekitarnya, lingkup regional, nasional dan bahkan dunia (https://kemsos.go.id).

Peran Pemuda

Peristiwa 10 November 1945 tidak lepas dari peran penting sosok muda yang dengan lantangnya menyerukan orasi melalui radio. Siaran Bung Tomo melanglang ke berbagai radio di Surabaya. Buku Indonesia dalam Arus Sejarah Edisi ke-6 menjelaskan, siaran Bung Tomo selalu dibuka dengan “Allahu Akbar! Allahu Akbar! yang berhasil menggerakan hati warga, terutama masyarakat santri di Surabaya kala itu.

Pekik takbir dan orasi penyemangat oleh Bung Tomo dibarengi dengan Resolusi Jihad yang dideklarasikan oleh KH. Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 yang menyerukan perlawanan terhadap penjajahan. Orasi menggelegar tersebut akhirnya mampu membangkitkan semangat para pemuda, santri, dan warga Surabaya untuk melawan tentara Inggris hingga menewaskan pimpinan perang AWS Mallaby.

Sejarah mencatat, bahwa kontribusi pemuda sangatlah penting dan dibutuhkan oleh bangsa ini. Apalagi kita akan dihadapkan dengan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045. Sudah menjadi hal yang pasti bahwa sebagai anak muda, penentu nasib bangsa di kemudian hari kita harus bersiap-siap diri.

Kepahlawanan pada saat ini tentunya dapat dilihat dari suatu perubahan dari perkembangan peradaban kita dari waktu ke waktu. Generasi sekarang tidak lagi berhadapan dengan musuh yang sama dengan perjuangan revolusi fisik tahun 1945. Musuh generasi sekarang adalah persoalan keadilan dan kesejahteraan yang belum bisa dinikmati secara merata oleh masyarakat Indonesia.

Generasi milenial, kini memiliki pekerjaan rumah berat yaitu menjadikan negara yang kuat dan punya daya saing yang baik untuk berhadapan dengan negara-negara lainnya di Indonesia. Untuk itu, jiwa kepahlawanan saat ini mensyaratkan banyak hal antara lain, generasi yang disebut milenial harus mengubah diri agar lebih dapat fokus untuk meningkatkan mutu diri mereka sendiri. Dengan begitu mereka dapat bermafaat untuk komunitas di sekelilingnya, kemudian bagi bangsa dan negara.

Dengan cara mereka dapat memberikan harapan dan rasa optimisme ke pihak lain, bahkan bagi bangsa dan negara. Mereka yang berasal dari generasi milenial ini juga layak disebut sebagai pahlawan.

Menjawab Tantangan

Pada saat ini Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan baru yang memiliki kapabilitas dengan tantangan kekinian. Pahlawan era kekinian yang mampu menjawab problematika bangsa dan umat yang terus berkembang.

Ancaman yang merusak tatanan bangsa ini bukan lagi penjajahan secara fisik. Tantangan terbesar pahlawan era milenial adalah ancaman serangan mental dan ideologi yang merusak perdamaian bangsa.

Karenanya, bangsa ini butuh pahlawan dalam segala aspek yang mampu mengorbankan jiwa, raga dan pikiran untuk menjaga perdamaian bangsa ini. Tantangan di era milenial yang padat teknologi digital saat ini juga semakin kompleks.

Narasi-narasi negatif mudah memecah belah persatuan bangsa. Setiap hari masyarakat disuguhi dengan konten yang tidak mendidik dan mudah menghasut. Dalam konteks itu, dibutuhkan pahlawan-pahlawan milenial dari kalangan generasi muda untuk mendarmabaktikan tenaga dan pikirannya dalam melawan penjajahan narasi yang mencoba meruntuhkan NKRI. Perang narasi di dunia maya menjadi tantangan kekinian bagi para pahlawan milenial.

Di samping itu kepahlawanannya dapat diwujudkan melalui keberanian untuk melawan narasi-narasi kebencian, hasutan dan provokasi yang dapat memecah belah persatuan. Kepahlawanan ini juga sekaligus mengembangkan kemampuan untuk dapat menangkal virus radikalisme dan terorisme yang dapat merusak keutuhan bangsa.

Para pahlawan milenial diharapkan selalu berjuang dalam menjaga perdamaian dengan memenuhi konten positif dan senantiasa membangun semangat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman pandangan di dunia maya.

Untuk menjadi pahlawan saat ini tentu diperlukan adanya optimisme yang dibangun atas keyakinan bahwa bangsa ini dapat menjadi bangsa yang besar, adil, dan makmur, serta mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi saat ini. Persoalan pengangguran, korupsi, reformasi birokrasi, penegakan hukum, konflik sosial, dan berbagai persoalan lain harus diyakini dapat diatasi dan diselesaikan sebagai bagian dari langkah untuk menjadi bangsa yang besar, adil, dan makmur. Tidak boleh ada kata menyerah, serumit apapun persoalan itu,  optimisme itu harus diwujudkan dalam bentuk kerja nyata yang diyakini sebagai prasyarat tercapainya cita-cita luhur. Kerja nyata harus dilakukan di semua bidang sesuai dengan bidang tugas dan profesi setiap warga negara.

Rasanya masih relevan pesan fenomenal  yang dikumandangkan Sang Proklamator dengan Jas Merahnya: Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Kandungan filosofisnya sangat mendalam yang dapat memotivasi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa dan negara. Di samping itu, jangan sampai melupakan dan meninggalkan hakikat dasar perjuangan yang sudah diletakkan dalam komitmen yang termaktub dalam filosofi Pancasila, UUD 1945 dalam bingkai Bineka Tunggal Ika dan NKRI.

Kembali di sini ditegaskan bahwa, aktualisasi nilai kepahlawanan sekarang ini perlu dimaknai secara lebih komprehensif, bahwa kontribusi pemikiran dan tenaga dari semua warga negara sangat dibutuhkan demi tetap tegak dan solidnya NKRI sebagai rumah bersama. 

Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.

Guru Seni Budaya 

SMK Wiyasa Magelang

Bangsa yang menghargai jasa para pahlawan dapat menjadi bangsa yang besar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan selalu mengingat betapa besarnya pengorbanan yang telah dipersembahkan para pahlawan untuk negara Indonesia tercinta,  sehingga pada saat ini kita dapat menghirup udara bebas dan hidup merdeka dari segala bentuk belenggu penjajahan. Sehubungan dengan hal tersebut, sudah selayaknya kita menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan dengan tulus, ikhlas dan tanpa pamrih menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kesetiakawanan sosial yang telah diwariskan para pahlawan, seperti sifat rela berkorban, pantang menyerah, bekerja keras suka menolong dan lain-lain, hendaknya terus ditumbuh kembangkan di kalangan masyarakat khususnya generasi muda. Apalagi era globalisasi saat ini yang sarat dengan berbagai pengaruh, yang apabila tidak disikapi dengan hati-hati maka dikhawatirkan dapat membawa generasi muda ke arah yang tidak diinginkan. Di era globalisasi, nilai dasar kepahlawanan yang dimiliki generasi muda saat ini mengalami penurunan. Hal itu dimungkinkan oleh pengaruh media sosial. Dimana seperti yang kita ketahui bahwasannya saat ini kehidupan generasi muda seolah tidak berjarak dengan media sosial.

Nilai kepahlawanan adalah sikap dan perilaku yang dilandasi dengan sifat-sifat berani, jujur, pantang menyerah dan tanpa pamrih dalam melaksanakan perjuangan membela tanah air baik untuk memperjuangkan maupun menegakkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keinginan melaksanakan nilai kepahlawanan harus dimulai dari lingkup terkecil dalam keluarga. Nilai-nilai itulah yang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah isu suku, agama, ras, dan antar-golongan. Nilai kepahlawanan itu berupa kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Nilai-nilai itu relevan pada masa kini untuk menjaga persatuan, khususnya bagi genersi muda.

Melaksanakan nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Menanamkan semangat berkorban, disiplin, kebersamaan dan motivasi untuk berprestasi bagi keluarga merupakan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam keluarga. Menanamkan nilai kepahlawanan dari lingkup terkecil dapat dimulai dari memberi pemahaman akan arti pentingnya dari pengabdian, pengorbanan, kerja keras dan mengerti kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi. Namun, untuk dapat memenuhi upaya itu tidak mudah. Keinginan menerapkan nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat mengalami sejumlah hambatan.

Di masa kini, makna pahlawan dapat diartikan sebagai sesorang yang menonjol karena mempunyai jiwa yang berani, rela berkorban, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Banyak profesi bisa dikategorikan pahlawan, seperti guru, aktivis lingkungan hidup, dan relawan kemanusiaan. Nilai-nilai kepahlawanan harus selalu menjiwai setiap perjuangan anak bangsa. Untuk itu, nilai kepahlawanan perlu terus menerus ditanamkan dalam dada setiap anak bangsa. Perjuangan tanpa roh kepahlawanan hanya akan melahirkan para pecundang (bukan pejuang).

Pepatah lama mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Terkait hal itu, bulan November bagi bangsa Indonesia menjadi bulan yang identik dengan kepahlawanan. Pasalnya pada bulan November bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November. Dengan adanya peringatan hari pahlawan setiap tahun, diharapkan generasi penerus tidak melupakan perjuangan para pahlawan. Para kusuma bangsa yang dahulu telah berjuang hingga titik darah penghabisan demi generasi saat kini dan mendatang. Sehingga menjadi hal yang penting menanamkan jiwa kepahlawanan kepada anak. Penanaman jiwa kepahlawanan bagi generasi muda sangat penting untuk menumbuhkan sikap patriotisme generasi muda di era modern. Bukan untuk melawan penjajah, namun memiliki jiwa patriot dalam bersaing secara global di segala aspek.

Tetap cinta tanah air dan tidak terpengaruh terhadap ideologi selain pancasila. Mengajarkan sifat kepahlawanan kepada anak sebaiknya dimulai sejak dini. Tidak harus melalui kursus atau pelatihan yang memelahkan. Juga tak harus melalui cara-cara yang rumit. Namun cukup melalui pendekatan emosional dari orang tua kepada anak. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan sikap kepallawanan kepada anak untuk menghadapi era globalisasi ini, antara lain:

1.     Peduli terhadap sesama

2.     Membiasakan suka berbagi

3.     Mengenalkan tokoh-tokoh pejuang dan pahlwan

4.     Melatih keberanian dan menegakkan keadilan

5.     Mengajarkan sikap tanggung jawab dan pantang menyerah

Di era globalisasi ini tantangannya berbeda dengan era sebelum kemerdekaan, yaitu pada era globalisasi tidak lagi berjuang secara fisik untuk melepaskan diri dari penjajahan, tetapi tantangannya adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mulai menjadi sebuah ancaman apabila kita sebagai warga negara tidak saling menjaga. Di era globalisasi ini banyak sekali isu hoaks dan ujaran kebencian mengenai masalah yang terjadi di Indonesia sekarang. Kita harus pandai menyaring berita hoaks yang menyebar. Berani menantang hoaks yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan. Hal ini dapat dicerminkan dari sikap pahlawan yang berani membela kebenaran.

 Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan zaman, telah terjadi banyak perubahan pada generasi muda dalam hal moral, tindakan dan kesadaran untuk melakukan perbuatan yang bersifat nasionalisme. Tentunya semua ini mengindikasikan mulai lunturnya jati diri bangsa Indonesia, khususnya di kalangan pelajar dan pemuda yang berimbas terhadap turunnya semangat nasionalisme. Banyak dari generasi muda ini belum sadar bahwa untuk mencapai kemerdekaan yang telah diraih saat ini dibutuhkan perjuangan keras bahkan hingga mengorbankan nyawa para pejuang pan pahlawan bangsa demi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Ditambah lagi di era globalisasi ini membuat gaya hidup seseorang menjadi kebarat-baratan. Seperti berpakaian ala orang barat menjadi trend di kalangan generasi muda, sedangkan produk-produk lokal malah dianggap kuno dan dianggap ketinggalan zaman. Bukan hanya itu saja, budaya orang barat pun ditiru tetapi budaya daerah sendiri pun tidak tahu. Kalau hal ini dibiarkan terus menerus maka sama halnya kita membuka jalan bagi bangsa lain untuk menjajah negeri kita sendiri. Sudah banyak bukti nilai juang kepahlawanan anak bangsa yang luntur bahkan hilang akibat pengaruh globalisasi. Era globalisasi ini lah yang menjadi gerbang awal kecemasan bangsa akan keutuhan dan kadaulatan Indonesia.

Generasi muda Indonesia adalah generasi penerus bangsa ini. Bangsa akan maju bila para pemudanya memiliki sikap nasionalisme yang tinggi. Nasionalisme sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara karena merupakan wujud kecintaan terhadap bangsa sendiri. Patriotisme dan nasionalisme harus tetap di gaungkan kepada generasi muda agar rasa nasionalisme dan patriotisme tidak hilang akibat tergerus oleh globalisasi dan perkembangan teknologi. Para generasi muda harus dapat melakukan pembatasan diri, sehingga dapat membedakan hal apa yang memang pantas dan tepat  yang justru berguna bagi bangsa ke depannya. Dengan menanamkan jiwa kepahlawanan, diiharapkan para generasi muda dapat menahan diri agar tidak terseret pada arus perubahan globalisasi yang berdampak buruk terhadap bangsa dan dapat tetap menjaga keutuhan Republik Indonesia tercinta ini.

Oleh : Azhari O.J

Leave a Comment